Tentang Empathy Supper

You can read the translated english version here.

Asal-usul Empathy Supper

Peleburan disiplin ilmu baru dari kampus: Human Center Design, dengan hal paling lekat dalam kehidupan sehari-hari: makanan, membentuk embrio salah satu format utama pertunjukkan Soydivision: Empathy Supper. Human Center Design, yang dipahami sebagai praktek desain yang berbasis empati atau manusia, mengisnpirasi Ariel W. Orah bersama kawan-kawan kampusnya untuk mengembangkannya dalam bentuk kesenian. Kolektif tersebut kemudian mencoba berbagai format, hingga tercetuslah nama Empathy Supper. Saat itu bentuknya masih generik: sekedar makan bersama, kemudian menonton film dan ditutup dengan diskusi. Setelah melalui serangkaian perubahan artistik, Empathy Supper menjadi semakin percaya diri dalam mengekstrak tema yang kontekstual untuk menghadirkan rasa empati partisipannya dengan mengkolaborasi makanan dan kesenian sebagai dasar bentuk artistiknya. Kolektif itu sempat vakum hingga akhirnya tidak aktif lagi. Namun rupanya ide pertunjukkan dengan format Empathy Supper masih terus tersimpan. Sekitar 1,5 tahun kemudian, Ariel berkesempatan kembali untuk menampilkan sebuah pertunjukkan. Saat itulah ide dari Empathy Supper dimunculkan kembali. Kali ini pertunjukkan itu diadakan oleh kolektif Soydivision dan menjadi bagian dari sebuah acara bulanan yang betajuk Soy & Synth, gabungan antara perjamuan makan dengan pertunjukkan musik sinthesis. 

Instalasi kinetik & audio “Insular” di Empathy Supper Centrifuge (2019), photo by Megalianti.

Faktor-faktor yang tidak boleh luput di setiap pertunjukkan adalah rasa dan emosi partisipannya. Seperti tertera dalam nama judulnya, Empathy Supper betujuan untuk mengajak para partisipan untuk bisa berkontemplasi dengan rasa empati. Hal ini tidak mudah dicapai. Teknik artistik yang kompleks berpeluang untuk mengalihkan perhatian para partisipan ke hal lain, alih-alih merasakan empati.Ini lah yang menjadi tantangan bagi soydivision untuk terus mengembangkan format Empathy Supper menjadi sebuah proses kreatif yang berkesinambungan.

Makanan Indonesia selalu menjadi inspirasi utama Empathy Supper. Seorang seniman akan menjadi juru masak utama dalam setiap perjamuan. Partisipan akan dipandu oleh seorang moderator yang memimpin jalannya acara selama 2 hingga 3 jam. Aktivitas makan itu sendiri selalu dikemas dalam beberapa babak. Setiap babak menjanjikan sebuah pengalaman artistik dan sensasi personal yang unik bagi tiap partisipannya. Sehingga perpindahan dari satu babak ke babak lain akan membawa partisipan dalam sebuah sensasi yang tidak biasa, tidak terduga dan tidak terulang. Setiap makanan memiliki cerita dan setiap cerita memiliki maknanya sendiri. Empathy Supper berusaha menghadirkan makna tersebut kepada partisipannya dengan mengeksplor sebuah rasa yang mengikat kita semua sebagai manusia: empati. Oleh karenanya, Empathy Supper sangat ideal jika dilakukan oleh partisipan secara komunal, namun juga tidak dalam jumlah yang begitu banyak, untuk tetap membuatnya menjadi event yang lebih intim dan personal, yakni antara 20 hingga 30 partisipan. 

Transformasi Bentuk

Pertemuan dengan berbagai seniman lintas disiplin menjadi bagian tak terpisahkan dalam proses metamorfisis artistik pertunjukkan ini. Empathy Supper mencoba untuk bisa merangkul berbagai disiplin kesenian: mulai dari penata cahaya, videografer, musisi, desainer, hingga penulis. Kolaborasi ini juga menjadi inspirasi untuk menghadirkan tema „focus artist“, yakni seniman yang telah berkolaborasi sebagai fokus utama dalam pertunjukkannya. Kerja sama itu membangun kesadaran bahwa kolaborasi dengan pihak lain menjadi penting dalam pertunjukkan berformat Empathy Supper.

Kerja sama dengan berbagai seniman lintas disiplin tersebut juga memberi pengaruh besar terhadap bentuk Empathy Supper dalam mengeksplorasi tema, menentukan konsep, hingga sisi teknik artistiknya. Salah satu contohnya adalah ketika Empathy Supper menggandeng penulis asal Indonesia Febi Indirani sebagai focus artist-nya. Empathy Supper kemudian mengelaborasi tema agama dengan pendekatan kritis dan kontekstual. Hal ini sebagai tanggapan atas judul buku dari penulis tersebut yakni: Relax, it is Religion. Ketika bekerja sama dengan desainer, Empathy Supper menampilkan berbagai bentuk instalasi. Tidak kalah menarik adalah ketika Empathy Supper berkolaborasi dengan desainer cahaya bernama Nindya Nareswari. Dalam pertunjukkan itu dihadirkan instalasi dari makanan -gulali- dan pengalaman makan dengan sensorik cahaya nan memukau. Empathy Supper menjadi sebuah pertunjukkan yang konseptual dan eksperimental.

Proses yang Berkesinambungan

Sejak awal kelahirannya, elemen makanan sudah melekat dalam berbagai bentuk pertunjukkan Soydivision. Nampaknya elemen ini akan terus dieksplorasi untuk pertunjukkan atau proses kreatif selanjutnya. Makanan adalah kebutuhan manusia paling purba. Sejak manusia mengenal teknologi bercocok tanam paling sederhana, hingga bisa mengubah gaya hidup berburu dan meramu menjadi menetap di suatu daerah, manusia telah berhasil membangun peradabandengan pesat. Dengan kata lain, pemenuhan kebutuhan makanan merupakan basis dari pembangunan peradaban. Kini makanan menjadi saksi sejarah. 

Makanan menjadi bagian dari ritual yang sakral. Makanan mendorong manusia mengusai satu dengan yang lain. Makanan adalah identitas. Makanan adalah harga diri. Makanan adalah sikap. Saya membaca Empathy Supper sebagai sebuah upaya mendekonstruksi berbagai plakat tersebut. Yakni bagaimana makanan menjadi sebuah aktivitas yang dapat menstimulasi kesadaran sosial lewat salah satu emosi psikologis yang paling intens: empati. 

Empati merupakan kemampuan untuk menjadi selaras secara emosional dalam memahami situasi yang dirasakan orang lain. Empati menghubungkan kita dengan orang lain melalui resonansi emosional: menempatkan kita di posisi orang lain. Misalnya, kita tidak akan mengambil barang milik orang lain, karena tahu bagaimana rasanya kehilangan. Di sisi lain, kita juga dihadapkan pada esensi paradoks bahwa perasaan atau keadaan emosional manusia merupakan sebuah pengalaman yang kompleks. Dan yang bisa kita lakukan hanya berusaha membayangkannya saja. Kita tidak akan pernah bisa benar-benar merasakan seperti apa situasi orang lain yang sesungguhnya. Dari pada itu, Empathy Supper dan proses-proses kreatif lainnya, semestinya dipandang sebagai sebuah proses berkelanjutan potensinya tidak akan pernah habis digali.

Ikuti Umi: @umilaut.
Baca tulisan-tulisan Umi di sini.

Published by

Avatar

Umi Maisaroh

Umi Maisaroh telah menyelesaikan jenjang studi master ilmu teater di Freie Universität Berlin. Pernah menjadi penari, pernah bermain teater boneka. Tapi kini lebih suka mengumpulkan cerita dan menggunakan berbagai medium untuk bercerita. Karya-karyanya merupakan hasil ketakjubannya akan kemurnian sains, renungan spiritual dan kebebasan seni.