Sumsuman Aryati

Dalam tulisan ini, Umi Maisaroh, kontributor Soy&Zine dan penulis naskah sekaligus pemeran dalam teater Aryati merefleksikan akhir dari proyek Aryati (untuk sementara ini). -Editor

To read the translated English version, click here.

Berlin, 27 Maret 2022

Dalam tradisi Jawa, terutama yang tinggal di desa atau kampung, upacara pernikahan biasanya diselenggarakan secara gotong royong antar tetangga. Tetangga akan secara sukarela membantu pengantin atau yang punya hajatan untuk mempersiapkan segala keperluan perayaan, misalnya memasak untuk tamu undangan dan menghias rumah atau jalan. Setelah upacara pernikahan atau hajatan tersebut usai, pengantin akan mengundang tetangga yang telah membantu acara tersebut untuk acara Sumsuman. Acara ini merupakan simbol “pembubaran“ panitia atau tim yang pernah membantu acara tersebut. Kata Sumsuman juga berasal dari nama makanan ini. Dalam acara Sumsuman mereka akan berdoa bersama kemudian yang punya hajat akan mengucapkan terimakasih sekaligus meminta maaf kepada mereka yang telah membantu jika pernah berbuat salah selama proses penyelenggaraan acara. Setelah itu mereka akan makan Jenang Sumsum (Bubur Sumsum).

Jenang Sumsum adalah bubur berwarna putih yang terbuat dari tepung beras. Cara membuatnya sebenarnya tidak rumit. Cukup mengaduk tepung beras dengan air atau santan lalu adonan ini dimasak dengan api kecil. Jika adonan sudah kental, lengket dan meletup-letup, berarti bubur sudah matang. Bubur ini kemudian disiram dengan kuah yang terbuat dari larutan gula jawa. Untuk menambah aroma, biasanya bubur ini dimasak dengan daun pandan. Makanan yang sederhana dan murah meriah, tetapi menjadi begitu kaya makna jika disajikan sebagai bagian dari ritual Jawa.

Tradisi Jawa memang seringkali melibatkan makanan sebagai unsur utama dalam ritual. Misalnya Tumpengan, yang juga pernah menjadi inspirasi pertunjukkan Soydivision yakni Tumpeng Tindih. Sementara dalam acara (atau ritual) Sumsuman, makanan yang menjadi unsur utamanya adalah Jenang Sumsum. Warna putih dari bubur ini  merupakan simbol bersih atau kesucian. Makna ini mewakili tujuan dari acara Sumsuman yang berarti kembali pada kesucian. Diharapkan setelah acara ini pihak yang terlibat dalam acara dapat kembali ke aktivitasnya dalam keadaan suci atau bersih. Kesucian juga merupakan simbol penghapusan kesalahan yang mungkin dalam proses hajatan sebelumnya pernah terjadi. Kuah manis gula Jawa menjadi simbol kesejahteraan. Rasa manis merupakan rasa yang membawa kesenangan. Rasa senang juga timbul dari kondisi yang sejahtera. Selain itu, rasa manis dari kombinasi karbohidrat dan gula dalam bubur ini juga dimaksudkan supaya seluruh orang-orang yang terlibat dalam acara hajatan kembali memperoleh kekuatan setelah berhari-hari mencurahkan seluruh pikiran dan fisiknya. Tekstur bubur Sumsum yang lengket menggambarkan bahwa meskipun acara telah “dibubarkan” namun hubungan mereka tetap terjalin erat.

Selama proses Aryati, bahkan hingga pertunjukkan itu berlangsung, banyak hal yang terjadi diluar rencana. Awalnya saya hanya menemani menjahitkan kata-kata untuk cerita Aryati. Namun akhirnya saya juga harus tampil di muka panggung. Sebenarnya saya agak grogi ketika harus tampil (lagi) di panggung. Entah, energi yang datang dari mana, juga mungkin berkat bantuan dan inisiatif salah satu panitia hajatan: Bilawa Respati, saya dapat melalui proses ini. Dia mencobakan pendekatan olah rasa dalam latihan kami. Pendekatan ini membawa saya mengarungi perjalanan ke dalam diri. Saya pun menjadi lebih intens menemukan karakter tokoh yang akan saya tampilkan. Sayangnya, waktu latihan kami terbilang sangat singkat. Dalam waktu tiga hari itu saya hanya sibuk dengan karakter yang saya mainkan, sementara saya belum sempat membangun ikatan batin yang cukup untuk bisa menyokong permainan aktor lain. Demikianlah latihan olah rasa yang sangat membantu proses keaktoran saya. Meski lelah, proses itu seperti terbayar terutama ketika melihat antusiasme anda semua yang menyempatkan waktu untuk bertandang ke hajatan Aryati. 

Kini, Aryati telah selesai dengan perjamuannya. Terlepas dari berbagai hal yang telah terjadi, baik sesuai atau di luar rencana, saya tetap bersyukur dan menerimanya dengan hati legawa. Terimakasih saya ucapkan kepada anda semuanya yang datang dalam hajatan, dan bahkan menyempatkan diri untuk berbincang-bincang dengan kami usai pergelaran itu. Kepada anda yang belum sempat mampir, semoga suatu saat kita dapat bertemu dalam perjamuan dengan Aryati di lain kesempatan. Seperti Jenang Sumsum, semoga proses ini membuat kita lengket dan tetap menjaga kekerabatan meskipun acara telah usai.

Published by

Avatar

Umi Maisaroh

Umi Maisaroh telah menyelesaikan jenjang studi master ilmu teater di Freie Universität Berlin. Pernah menjadi penari, pernah bermain teater boneka. Tapi kini lebih suka mengumpulkan cerita dan menggunakan berbagai medium untuk bercerita. Karya-karyanya merupakan hasil ketakjubannya akan kemurnian sains, renungan spiritual dan kebebasan seni.