Pesta Pora Dewa-Dewa yang Memecah di Gaung

You can read the translated english version here.

Tulisan ini merupakan tanggapan penulis atas “Concert Lecture” bertajuk “Gaung” oleh Bilawa Respati dan Ariel Orah pada tanggal 13 Februari 2022 di Ballhaus Naunynstrasse.

Dia memukul sebuah lempengan logam tepat dibagian tengahnya, hingga logam itu bergetar, menumpahkan suara yang menggaung di ruangan hitam. Sebelumnya dihantarkan suara yang lembut namun melengking. Suara dari seseorang yang meniup satu alat yang bentuknya, menurutku, lebih mirip mikroskop. Suara itu retak bagai serpihan jarum-jarum yang tajam menyayat membran-membran indra pendengaran. Satu kata yang tidak asing tertangkap teliga saya: “nina bobo”. Sekali lagi, dipecahkan oleh suara dari lempengan logam yang dipukul. Dikejar bunyi „O“ dari pita suara yang bergetar. Demikianlah suara-suara itu saling mencengkram dan memencar ke seluruh penjuru ruangan.

Sekejap suara itu pergi. Kedua aktor, Bilawa dan Ariel, kemudian berbicara dalam bahasa Inggris. Salah satu dari mereka menyebut kata “sound“, disambung beberapa penjalasan, kemudian kata “Syang Hyang Widhi”, “gamelan”, “laras”, “gending”. Kata-kata dimuntahkan dari mulut mereka, seperti potongan-potongan kolase yang aku harus aku punguti dan susun untuk mengetahui maknanya. Aku hanya bisa menangkap bahwa mereka menceritakan tentang bunyi yang begitu sakral dari alat musik Jawa yang bernama gamelan. Bunyi para dewa atau Syang Hyang Widhi. Mungkin bagi mereka yang belum mengerti konteks gamelan dan Jawa, akan meraba-raba untuk mengetahui apa yang mereka bicarakan. Namun, seperti halnya yang saya lakukan, keterangan di pamflet membantu arah pengertian kami tentang konteks „concert lecture” bertajuk Gaung ini.

Ada banyak jenis seni pertunjukkan, misalnya performance, perfomative, event, drama, panggung, dan sebagainya. Namun konsep concert lecture seperti pada gaung adalah pengalaman pertama saya. Dari „concert lecture” Gaung yang saya lihat, para aktor memainkan alat musik sambil bergantian dengan memberikan penjelasan tentang konteks pertunjukkan itu sendiri. Dalam concert lecture Gaung, mereka juga menambahkan video dalam proyektor. Imbuhan “lecture” dalam pertunjukkan ini rupanya menjadi pembeda bahwa aktor, selain akan memainkan musik, juga menjadi pelaku yang memberi penjelasan yang ilmiah kepada para penonton. Jadi, selain bisa menikmati permainannya, penonton juga akan disuguhkan dengan berbagai fakta ilmiah mengenai apa yang dipresentasikan dalam pertunjukkan.

Gaung mengusung gamelan, alat musik tradisional Jawa sebagai resonansi utamanya. Sedikit pengantar dari saya, gamelan merupakan satu set alat musik yang terdiri dari berbagai jenis dan bentuk, umumnya terbuat dari logam atau perunggu. Dalam Gaung, mereka mempresentasikan 5 jenis alat musik: Gong, Gender, Bonang dan dua jenis Saron. Catatan tertua tentang gamelan dapat dirunut dari salah satu alat gemelan, yakni Gong, yang terpahat sebagai relief di candi Borobudur.1 Dari keterangan ini, alat kemungkinan telah ada setidaknya sejak abad ke-7 di Jawa. Beberapa penilitian menyebutkan bahwa gamelan merupakan alat musik yang hanya dimainkan di wilayah kerajaan. Gamelan hanya dimainkan dalam waktu-waktu tertentu dan untuk memainkannya pun diperlukan ritual khusus. Oleh karenanya, gamelan sering kali dianggap sebagai alat musik sakral. Namun rupanya beberapa catatan menunjukkan bahwa gamelan juga dimainkan di luar kerajaan, yakni untuk mengiringi penari jalanan, yakni teledek.2 Karena tarian tardisional jalanan ini merupakan sisa peninggalan sebelum masa kolonial, besar kemungkinan gamelan telah dimainkan di luar kerajaan bahkan sebelum Jawa bersentuhan dengan masa kolonial. Dengan kata lain, proses melepaskan gamelan dari hegemoni kerajaan telah ada sejak sebelum masa kolonial di Jawa. 

Setelah berputar-putar dengan Gong, kedua aktor berpindah ke alat musik kedua: Saron.  Mereka membuka penjelasan lewat bab baru: Imaji. Proyektor menampilkan gambar hitam putih, orang-orang yang bermain wayang. Bagi mereka yang tidak mengenal wayang, akan merasa asing dengan video tersebut, dan seolah terlepas dari penjelasan kedua aktor. Saya pun agak kesulitan untuk menangkap korelasi penjelasan kedua aktor dengan gambar dari proyektor. Bagian ini ditutup dengan Bilawa memainkan saron dan Ariel menimpalinya dengan alat musik elektroniknya. 

Mereka kemudian berpindah ke instrumen gamelan ketiga: Gender. Di sini mereka kembali membuka bab baru: Kuasa. Bilawa yang tadinya hanya mengenakan overall warna putih, mulai mengambil kain bermotif (batik), sementara Ariel perlahan membuka overallnya yang juga berwarna putih. Seperti kegerahan, tersembul dari tubuhnya kemeja warna-warni dan celana pendek berwarna oranye. Saya tidak bisa menangkap dengan cermat kata-kata yang mereka ucapkan, namun dari simbol pakaian mereka, saya menduga mereka mencoba memaparkan pengaruh masuknya budaya barat lewat kolonialisme di Jawa. Mereka seperti menyebutkan masa “pujangga baru” sebagai titik apakah Indonesia ingin mempertahankan tradisi atau membuka diri terhadap pengaruh budaya baru. Kembali penjelasan ini ditutup dengan sedikit permainan musik.

Aktor kemudian berpindah ke gamelan keempat: Saron, dan kembali membuka bab baru: Arah. Pada bagian ini mereka membahas keunikan notasi gamelan. Bilawa nampak mengambil dan mengenakan sebuah jas. Sebuah jas yang seolah menjadi simbol budaya baru, dan saya menangkapnya sebagai budaya Timur yang mulai menerima budaya baru. 

Selesai dengan pembahasan ini, mereka menuju ke instrumen kelima: bonang, dan sekaligus membahas bab terakhir: Gaung. Gambar Tan Malaka dimunculkan di proyektor. Bilawa membalikkan sarong, dan memainkannya seperti dalam Klangtherapie atau terapi suara. Setelah pembahasan bab ini, mereka kemudian bermain secara acak dari satu gamelan ke gamelan lain, dari satu alat musik ke alat musik yang lain. Bilawa selalu setia pada gamelan, sementara Ariel dengan alat musik elektroniknya. Ruangan kembali digetarkan oleh kombinasi bunyi-bunyian tersebut. Sebagai pamungkas pertunjukkan, Bilawa kembali memegang gamelan pertama: gong, dan Ariel mengikuti lewat efek suara dari alat musik elektroniknya. Pertunjukkan seolah dibawa kembali ke awal mula lewat bunyi “O”, gong dan “nina bobo”.

Concert lecture “Gaung” dapat menawarkan dua teks sekaligus: teks lecture yang dibacakan oleh aktor sekaligus simbol dari gestur dan kostum sang aktor. Di satu sisi, dia dapat menawarkan pertunjukkan yang kaya, tapi juga sekaligus kompleks. Jika penonton tidak memiliki setidaknya gambaran akan konteksnya “lecture”nya, penonton mungkin akan terlepas dari penjelasan- penjelasan yang disampaikan aktor. Belum lagi dalam hal gamelan, ada banyak kata yang tidak mungkin diartikan secara langsung kedalam bahasa Inggris, misalnya: karawitan, laras, slendro, pelog, nyi glamprang, dan sebagainya. Namun seberapapun penonton akan meraba-raba maksud dari pertunjukkan, Gaung menjadi siasat baru untuk memilin “lecture” dengan “concert”. Terlepas dari berbagai penjelasan ala “lecture” malam itu, saya lebih menikmati Gaung sebagai perayaan para dewa dari penjaranya di  surga yang terjun bebas ke bumi.

1 Brandon, James R. (1967). Theatre in Southeast Asia. Cambridge, Mass.: Harvard Univ. Press. Hal.11.

2 Pigeaud, T. (1938). Javaanse Volksvertoningen. Bijdrage tot de Beschrijving van Land en Volk. [E-book]. Netherland: Volkslectuur. Hal. 323.

Published by

Avatar

Umi Maisaroh

Umi Maisaroh telah menyelesaikan jenjang studi master ilmu teater di Freie Universität Berlin. Pernah menjadi penari, pernah bermain teater boneka. Tapi kini lebih suka mengumpulkan cerita dan menggunakan berbagai medium untuk bercerita. Karya-karyanya merupakan hasil ketakjubannya akan kemurnian sains, renungan spiritual dan kebebasan seni.