Melankolonial

Read the translated english version here.

Melankolonial, malam memandangku dengan remang, suaranya menggerayang, Aryati datang dan berbisik:

Kebiadaban yang Beradab

Alkisah, pada sebuah masa yang telah lampau, Eropa dijangkiti wabah penyakit. Sebelumnya mereka telah diporak-porandakan oleh kelaparan. Sebagian yang lain dikalahkan oleh perang. Ratusan orang tumbang. Namun satu-dua diantaranya secara ajaib mendapat kekuatan. Dengan tenaga dan pikiran yang tersisa, mereka berlayar dalam lautan doa. Harapan dan kepasrahan adalah mata angin. Dan seorang demi seorang dari mereka menemukan tanah tumpuan, yang akan mengubah wajah mereka, tapi juga menjangkitinya dengan wabah. Wabah yang sampai sekarang belum ditemukan obatnya.

Setelah terombang-ambing dalam waktu yang tidak terhitung, aku pikir kami telah berlabuh di surga. Kami nyaris tidak percaya bahwa kami masih berada di bumi dan menghirup udara. Ini lebih dari sekedar musim panas, ini taman tidak ada duanya. Kami pun dikejutkan dengan serombongan orang yang bentuknya begitu berbeda. Rambut mereka hitam legam. Pigmen kulit membuat mereka menjadi berwarna. Merah, biru, hijau, kelabu. Selintas mereka nampak begitu garang, tapi juga begitu polos dan ramah sekaligus. Berjalan tanpa alas kaki, bertelanjang dada, yang lain begitu gempita dengan kilauan emas dan mutiara. Jantungku tiba-tiba memompa darah begitu derasnya. Kami ingin mendekatinya, rasa takut juga menghalangi.

Pagi menjadi petang, petang menjadi pagi. Entah berapa lama kami telah menetap di taman nan indah ini. Kepada kolega-kolega kami di Eropa, kami berkabar bahwa kami butuh bantuan dari mereka. Satu persatu dari kami mulai terjangkit penyakit. Gejalanya di tiap-tiap orang tidak sama, tapi ada beberapa yang pastis ama. Pertama kami selalu pusing dan mual. Ingatan-ingatan akan kampung halaman selalu berputar-putar di kepala kami. Kadang ada yang menjadi kejang-kejang karenanya. Tapi ada juga yang hanya mengeluh demam. Kedua, seringkali kami menggigil. Terutama ketika harus berbicara dengan penghuni taman ini. Kami selalu rikuh mendengar bahasa mereka. Apakah mereka membicarakan hal-hal buruk tentang kami? Apakah mereka ingin menyerang kami? Kami tiba-tiba menjadi gelisah, dan bersepakat, melarang mereka berbicara dengan bahasa mereka. Ah, dan ini yang paling parah. Ketika kami mulai menjadi gampang marah. Kami kadang menjadi kehilangan kesadaran, dan melakukan hal-hal yang tidak hanya menyakiti diri kami sendiri, tapi juga mereka. Kepala kami panas hingga ubun-ubun. Kami mulai memukuli, menyiksa, hingga membunuhi mereka. Tapi entah kenapa dalam hati kami tidak ada rasa takut. Sebuah dengungan di telinga kami berbisik, ini adalah sebuah misi, misi pemperadaban.

Pantang Malang

Musim ini wereng telah memakan sebagian padi kami. Tapi buah kedondong1 dan ganyol2 masih cukup untuk mengganjal perut hari ini. Dan kami masih sempat membuat sajen. Menyematkan doa yang telah menjadi mantra. Sri Paduka masih di singgasana. Petang menyelimuti terang, terang mengejar petang. Para teledek3 menyusuri jalan-jalan. Hingga pada suatu saat yang kami lupa tanggalnya, semenanjung kami didatangi oleh kapal-kapal yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Dari dalamnya muncul makhluk-makhluk berbadan tinggi. Mereka memiliki mata, memiliki rambut, bentuknya seperti manusia. Tapi kulitnya lebih terang dari kami, rambutnya seperti benang goni. Apakah mereka malaikat yang dikirim Syang Hyang dari sajen kami? Oh, Sri Paduka berwarta, bahwa mereka datang dari negeri nan jauh bukan kepayang. Dan selayaknya mereka yang asing, adalah tamu bagi kami. Dan sebagai tamu sudah semestinya kami menjamu mereka. Sri Paduka menerima mereka dalam singgasananya. Pisang, padi dan kelapa disuguhkan sedemikan rupa. Juga tari dan kendang. Mata kami berebut memandang mereka. Apa yang mereka katakan? Apa yang mereka bawa?

Surya lahir dan tenggelam ribuan kali. Selama itu pula sang tamu di tanah kami. Sang tamu yang tidak lagi menjadi tamu. Sang tamu menawarkan kami menanam ini dan itu, tapi dengan paksaan dan siksaan. Sang tamu membangunkan tembok-tembok dan mesin-mesin berjalan, tapi dengan tumpahan darah dan air mata kami. Sang tamu mengajari kami ini dan itu, tapi dengan merampok pusaka kami. Dia telah mengubah wajah tanah kami. Kami memang suka marah, tapi tidak pernah segampang ini. Kami memang suka berebut, tapi tidak pernah merasa memiliki. Satu persatu dari kami pun terjangkiti penyakit. Sri Paduka juga tidak luput dari wabah. Otot kami begitu tegang, kepala kami kram, kami kehilangan berat badan, diare, ada yang mimisan hingga muntah darah. Sebagian dari kami menjadi lumpuh atau berjalan terseok-seok. Kami tidak mampu lagi mengunyah makanan sendiri. Kami hanya bisa pasrah dan tidak sanggup lagi berpikir. Dengan sekali teriak, kami bisa memberangus saudara kami sendiri. Sri Paduka lebih parah lagi. Dia jadi buta dan tuli. Suara kami tidak didengarnya, penderitaan kami tidak dilihatnya. Perut mereka buncit oleh batu-batu panas neraka. Yang panasnya membakar hingga ke ulu hati. Sri Paduka menjadi gila, gila harta, gila hormat, gila kuasa. 

Kini sang tamu telah pergi. Tapi entah kenapa, kami malah merasa kehilangan. Bukan kehilangan sang tamu, tapi kehilangan harga diri. Kami seperti membenci mereka, tapi kami juga kagum pada mereka. Kami mengumpat-umpat mereka, tapi kami juga tidak ingin lepas dari mereka. Apakah ada yang salah dengan kesehatanku?

Setelah badai yang tidak terperi, kami harus meninggalkan taman nan indah ini. Kami memang merindukan Eropa, tapi entah kenapa kami tidak ingin melepaskan mereka, kami hanya ingin makanan mereka. Ah…. penyakit ini membuat kami mulai berhalusinasi: kami yang telah menolong mereka, kami mendidik mereka, dan kamilah yang telah mengangkat derajat mereka.

1 Buah yang nama ilmiahnya Spondias dulcis.
2 Sejenis umbi-umbian, nama ilmiahnya Canna discolor.
3 Penari tradisional Jawa.

Published by

Avatar

Umi Maisaroh

Umi Maisaroh telah menyelesaikan jenjang studi master ilmu teater di Freie Universität Berlin. Pernah menjadi penari, pernah bermain teater boneka. Tapi kini lebih suka mengumpulkan cerita dan menggunakan berbagai medium untuk bercerita. Karya-karyanya merupakan hasil ketakjubannya akan kemurnian sains, renungan spiritual dan kebebasan seni.