Melankolonial – Editor’s Note

Berlin, 13 Maret 2022

Catatan Redaksi

Menuju bulan Maret, saya berbincang dengan Aryati secara lebih intensif. Bukan sekedar tentang masalah teknis untuk perjamuan nanti, kami juga lebih banyak berbincang tentang perasaan. Hingga sampailah kami pada sebuah kesepakatan untuk menyematkan bulan ini dengan sebuah tema: Melankolonial. Istilah ini saya ambil dari gabungan dua kata: melankolia dan kolonial. Melankolia dari bahasa Yunani secara harfiah berarti empedu hitam. Kini kata melankolia lebih sering digunakan dalam istilah penyakit kejiwaan. Terutama sejak diterbitkannya tulisan Sigmund Freud yang berjudul “Trauer und Melancholie“ pada tahun 1917. Dalam essai tersebut Freud fokus pada perbedaan duka dan melankoli. Berbeda dengan perasaan duka, melankoli atau melankolia lebih merujuk kepada gangguan mental akibat kesedihan yang mendalam. Melankolia membuat orang merasa terasing atau kehilangan minat terhadap dunia luar, kehilangan perhatian terhadap diri sendiri, mencela dan mencerca diri sendiri, hingga membayangkan hukuman sebagai harapan delusi. Penjamahan atas perasaan Aryati masih sekelibat demi sekelibat bagi saya. Tapi saya rasa, melankolia –sayangnya– mendekati pemaknaan saya terhadap situasi batin Aryati.

Dia bilang, dalam dunia ini hanya ada dua nasib, sebagai penjajah, atau terjajah.

Sementara kata kolonial saya tambahkan untuk menegaskan konteks sosial dari tokoh Aryati. Awalnya pertemuan dengan Aryati adalah hasil dari penelusuran terhadap sejarah musik keroncong di Indonesia. Namun dari penelusuran tersebut ditemukan bahwa asal mula musik ini tidak dapat dilepaskan dari penjajahan atau masa kolonial di Indonesia. Dari penelusuran selanjutnya juga diketahui bahwa masa kolonial juga berefek pada penindasan terhadap perempuan, masalah yang juga ditanggung oleh Aryati. Kolonialisme telah mencengkram perempuan, terutama di negeri terjajah, dalam kemalangan. Seperti yang saya catat dalam “Bulan Aryati dan Hari Perempuan“ yang merupakan salah satu contoh bagaimana perempuan terjerembab di lapisan terendah dalam sistem kolonial. Hal ini menjadi lebih kompleks karena mereka tidak hanya diserang secara fisik, tapi juga secara mental. Perlu bertahun-tahun, sampai menunggu tujuh turunan bagi para korban ini untuk mendapat keadilan. Sebagian besar di antaranya bahkan tidak pernah terdengar lagi, atau bahkan dengan sengaja dihilangkan.

Selama berabad-abad mereka telah menindas kemanusiaan atas nama peradaban dan telah dibuat kaya olehnya. Yang kalah menyia-nyiakan waktunya untuk membenahi dan menjadi bayangan mereka

Kolonialisme telah membelah bumi, dari Barat ke Timur, Utara ke Selatan, Tenggara dan Barat Daya menjadi arena persengketaan dan perampasan yang tidak habis-habis. Walau sebenarnya yang tersisa hanya dua: yang menang dan yang kalah. Saya sebenarnya tidak ingin menambah perdebatan ini. Namun kemanusian saya terusik karena berbagai peristiwa yang belakangan terjadi masih saja berhulu pada masa kolonial. Saya pikir masa kolonial sudah berhenti di museum atau buku-buku sejarah. Seharusnya pikiran saya itu tidak salah, tapi rupanya penindasan dan peperangan itu masih sangat nyata. Begitu juga dengan mereka yang tidak berputus asa dalam berjuang. Dalam tulisan saya “Melankolonial”, saya memaknai permasalahan ini sebagai sebuah wabah. Wabah yang tidak mungkin bisa hilang dari muka bumi. Bahkan ketika mereka mencari setitik celah untuk menghapuskan setiap catatan itu. Tidak satu pun bisa dimusnahkan. Seberapa keras mereka berusaha menyapunya, tidak satupun dari kita dapat menghapus yang telah terjadi, melenyapkan sejarah.

Kawan, kita bisa melakukan apapun, selama tidak meniru mereka, selama tidak menjadi pengekor mereka, selama tidak mengidamkan mereka, dalam diam-diam atau terang-terangan

Proses dekolonisasi saya tidak pernah tanpa kekerasan. Saya seakan harus mengganti diri saya menjadi diri yang lain. Proses yang tidak datang semudah sulap atau sihir, tidak juga datang secara alamiah, bukan juga serta-merta muncul dari rasa saling pengertian. Tidak cukup sekedar mencari jawaban dari ratusan buku. Karena setiap buku tidak menawarkan apa-apa, selain versi sendiri-sendiri tentang dirinya. Dia begitu unik, seperti pengalaman masing-masing dari kita. Membangun pengertian pun tidak cukup. Bahkan untuk bisa berbicara secara sejajar, kawan, kamu harus belajar bahasa mereka. Jika kamu tidak sejak bayi membiasakan diri dengan bahasa mereka atau kamu harus menjadi orang paling berbakat untuk bisa berbicara dalam bahasa mereka. Sejenius apapun kamu, mereka lebih tahu daripada kita. Kamu akan tetap berdiri menjadi bayangan. Dan bahkan itu semua tidak cukup, untuk sekedar membereskan warisan persengketaan dari masa kolonial. Melalui Aryati, dan berproses dengan Soydivision, saya merasa ditarik kembali pada perenungan masa itu. Proses ini bagi kami, atau setidaknya bagi saya, adalah sebuah pacuan untuk tinggal landas, menguji konsep yang berbeda, bergiat menjadi manusia baru.

Editor’s Note

In March, I have been intensively talking with Aryati. Not just about the technical aspects for the banquet on the 19th, but we also talked more about feelings. We arrived at an agreement to pin this month with a theme: Melankolonial. I took this term from a combination of two words: melankolia and kolonial. Melankolia from Greek which literally means black bile. Now Melankolia is more often used in terms of psychiatric issue. Especially since the writing of Sigmund Freud titled “Mourning and Melancholia” was published in 1917. In the essay Freud focused on the differences between grief/mourning and melancholia differences. In contrast to the feeling of grief, melancholi or melancholia more akin to mental disorders due to deep sadness. Melancholia makes people feel alienated or lose interest in the outside world, loses attention to yourself, criticizing and multiplying themselves, to imagine punishment as a delusion expectation. Understanding the feeling of Aryati is still a strange sake of me. But I think, Melankolia -unfortunately- approached my meaning to the inner situation of Aryati.

They said, in this world there are only two fate, be colonizer, or colonized.

I added the word kolonial to emphasize the social context of Aryati. Initially the encounter with Aryati was indeed came from searching for the history of keroncong music in Indonesia. But from the research it was revealed that the origin of this music cannot be separated from colonialism and colonial period in Indonesia. Further research exposed that the colonial period also had an effect on the persecution of women, problems were also borne by Aryati. Colonialism had grabbed women, especially in a colonised country, in misfortune. As I noted in the “The Month of Aryati and Women’s Day” which is an example, how women fall in the lowest layer in the colonial system. This became more complex because they were not only being physically, but also mentally assaulted. It needed years, throughout multiple generations for these victims to get justice. Most of them have never even heard anymore, some were even deliberately removed.

For centuries they oppressed humanity on behalf of civilisation and have been made rich. The oppresed wasted their time to restore, just to become their shadow

Colonialism has split the earth, from east to west, north to south had became an arena of disputes and seizure that never ends. Even though there are only two left: who wins and who loses. I actually don’t want to add anything to this debate. But my humanity was disturbed, because the recent events that occured still trace back to colonial times. I think the colonial period had stopped at the museum or history books. I should not be wrong, but apparently the oppression and warfare are still very real. Likewise with those who don’t despair in fighting. In my writing “Melankolonial”, I interpret this problem as an plague. A Plague that will never dissapear from the face of the earth. Even when they looked for opportunities to erase every record. None can be destroyed. No matter how hard they try to wipe it away, none of us can erase what has happened and eliminate history.

Friends, we can do anything, as long as we don’t imitate them, as long as we don’t follow them, as long as we don’t idolise them. Secretly or blatantl

My decolonisation process has never been without violence. I seemed to have to replace myself and be another self. The process did not come as easy as magic, it did not come naturally, nor did it emerge from mutual understanding. It was not enough to find answers from hundreds of books. Because every book does not offer anything, besides its own version of truth. It is so unique, like the experience of each of us. Building an understanding is also not enough. Even to be able to speak as equal, friend, you have to learn their language. If their language is not your mother tongue, you have to be the most talented person to speak in their language. Whatever you know, they know better than us. You will stand in the shadow still. And even that is not enough to clear the inheritance from the colonial period. Through Aryati, and and the process with Soydivision, I felt withdrawn to the reflection of that time. This process for us, or at least for me, is a race to take off, to test different concepts, energises to become new humans.

Published by

Avatar

Umi Maisaroh

Umi Maisaroh telah menyelesaikan jenjang studi master ilmu teater di Freie Universität Berlin. Pernah menjadi penari, pernah bermain teater boneka. Tapi kini lebih suka mengumpulkan cerita dan menggunakan berbagai medium untuk bercerita. Karya-karyanya merupakan hasil ketakjubannya akan kemurnian sains, renungan spiritual dan kebebasan seni.