Editor’s Note: Lingkar

Dalam bahasa Indonesia, sebuah kata bisa memiliki lebih dari satu makna. Kata bisa memiliki makna literal dan makna yang ditambahkan pada makna literal tersebut. Misalnya kata “lingkar“ yang secara literal adalah sebuah lengkungan yang pada ujung akhirnya menyambung pada ujung mulanya. Lingkar juga bisa mengacu makna lain, misalnya pertemuan atau perkumpulan. Jika dia diimbuhi akhiran -an, maka dia akan merujuk pada sesuatu yang berbentuk bundar. Sementara kata lingkar sendiri tidak melulu sesuatu yang bundar. Misalnya, kata lingkar pinggang yang merupakan gabungan lingkar dan pinggang. Dia berarti keliling suatu benda, atau dalam hal ini pinggang, yang diukur dengan membentuk lengkungan dengan mempertemukan ujung awal ke ujung akhir. Lingkar pinggang juga tidak berbentuk bundar bukan? 

Pada bulan Februari ini kami mengambil kata “lingkar“ dari bahasa Indonesia tersebut sebagai temanya. Sebagai salah satu kontributor, saya tidak begitu banyak menyebut kata lingkar secara literal dalam tulisan-tulisan saya di bulan ini. Namun, melalui catatan redaksi ini, saya dapat menyirapkan gagasan “lingkar“ dari tulisan-tulisan saya yang lalu.

Dari tulisan saya tentang Empathy Supper, saya fokus pada makna empati. Saya membayangkan, jika sikap empati digambarkan dalam sebuah garis, dia akan membentuk sebuah garis yang ujungnya saling bertemu. Empati adalah rasa yang muncul dari kesadaran sosial, artinya perlu melibatkan lebih dari satu pihak. Melalui rasa empati, kita membayangkan berada di posisi orang lain. Dengan membayangkan sebagai orang lain, kita merasa bahwa ada satu kesamaan yang menghubungkan kita dengan orang lain. Rasa keterhubungan ini, seperti dalam lingkar, yakni menghubungkan antar ujung. Selain itu, kata supper dalam Empathy Supper saya terjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai perjamuan. Perjamuan berarti makan bersama, atau peristiwa makan bersama dengan mengundang tamu. Hal ini juga selaras dengan makna lingkar sebagai sebuah pertemuan. Pertemuan antara tamu dan tuan rumah, seperti pertemuan dua buah ujung dalam garis lingkar.

Pada artikel tentang “Gaung” saya menggambarkan bagaimana concert lecture tersebut berakhir seperti pada bagian mula pertunjukkannya. Artinya, Gaung menggunakan alur melingkar, yakni bagian akhir adegan kembali pada adegan awalnya. Dia dimulai dengan permainan gong dan diakhiri kembali dengan permainan gong pula. Alur yang seperti lingkar: ujung awal bertemu dengan ujung akhir. Alur seperti ini mengingatkan saya pada naskah drama favorit saya Menunggu Godot karya Samuel Beckett. Pengulangan dalam drama ini mendukung teknik alur melingkar. Akhir yang tidak akhirnya, karena akhir seperti atau mengingatkan kembali pada awal adegan. Drama Menunggu Godot, praktis akan meninggalkan keabsurdan, teka-teki, dan kebingungan yang tak berujung. Gaung tentu tidak seabsurd drama Menunggu Godot, tapi alur melingkar Gaung meninggalkan kesan yang mirip seperti drama tersebut, sebagai sesuatu yang tiada akhirnya, tidak berujung pangkal, atau tidak habis-habis.

Namun tulisan ini mesti menuju pada akhir, akhir yang akan disambung dengan awal tulisan edisi mendatang. Jadi, sampai bertemu pada Soy and Zine di bulan Maret. 

Salam,
Umi Maisaroh

  

In Bahasa Indonesia, a word can have more than one meaning. Words can have literal meanings and meanings added to it. For example, the word “Lingkar” which is literally an arch that ends at the end connecting to the beginning. Lingkar can also refer to other meanings, such as meetings or gatherings. If you add the suffix “-an”, then it means a circle. Meanwhile the word lingkar itself doesn’t always mean something round. For example, the word “lingkar pinggang” (waist circumference) which is a combination of lingkar and pinggang (waist). It means the circumference of an object, in this case the waist, which is measured by forming an arc by bringing the initial end to the end. After all waist circumference is not exactly round, right?

This February, we took the word “lingkar” from the Indonesian language as its theme. As one of the contributors, I didn’t mention the word lingkar a lot this month, at least not in its literal meaning. However, through this editorial note, I can extract the idea of “lingkar” from my previous writings.

From my writing about Empathy Supper, I focused on the meaning of empathy. I imagined, if empathy is depicted in a line, it will form a line whose ends meet. Empathy is a feeling that arises from social awareness, meaning that it needs to involve more than one party. Through empathy, we imagine being in someone else’s shoes. By imagining being in such position, we feel that there is one thing in common that connects us to other people. This sense of connectedness, as in a circle, is connecting the ends. In addition, I translated the word supper in empathy supper into Bahasa Indonesia as “perjamuan” (banquet). Perjamuan means eating together, or the event of eating together by inviting guests. This is also in line with the meaning of the circle as a meeting. Meetings between guests and hosts, like the meeting of two ends in a circle.

In the article about “Gaung”, I described how the concert lecture ended as in the beginning of the performance. That means, Gaung used a circular plot, i.e. the end of the scene returns to the initial scene. It started with a hit of a gong and ended again with another hit of a gong. A loop-like groove: the beginning meets the end. A plot like this reminds me of my favorite drama script “Waiting for Godot” by Samuel Beckett. The repetition in this play supports the circular plot technique. The ending is not necessary the end, because the ending is like or reminiscent of the beginning of the scene. “Waiting for Godot” would practically leave behind endless absurdities, puzzles, and confusion. “Gaung” is certainly not as absurd as “Waiting for Godot”, but the circular plot of “Gaung” leaves an impression similar to that of the drama, as something that has no end, no end, or no end.

However, this writing must come to an end, the end of which will be continued with the beginning of the writing of the next volume. So, see you at Soy and Zine in March.

Regards,
Umi Maisaroh

Published by

Avatar

Umi Maisaroh

Umi Maisaroh telah menyelesaikan jenjang studi master ilmu teater di Freie Universität Berlin. Pernah menjadi penari, pernah bermain teater boneka. Tapi kini lebih suka mengumpulkan cerita dan menggunakan berbagai medium untuk bercerita. Karya-karyanya merupakan hasil ketakjubannya akan kemurnian sains, renungan spiritual dan kebebasan seni.