Bulan Aryati dan Hari Perempuan

Read the translated english version here.

Pada bulan Maret, ada satu hari yang khusus didedikasikan untuk perempuan. Bahkan di Berlin, hari itu menjadi hari libur resmi. Hari itu adalah Frauentag, hari perempuan, yang jatuh pada tanggal 8 Maret. Pada bulan ini pula Aryati akan memperkenalkan dirinya. Aryati, perempuan yang lahir dan mati dalam satu malam.

Bulan ini pun menjadi semakin bergejolak karena dibuka oleh sebuah demonstrasi di „Friedensstatue“ di Berlin pada tanggal 1 Maret 2022 lalu. Patung berwarna tembaga dalam bentuk tubuh perempuan dengan Hanbok1. Patung itu menjadi simbol „comfort women“, perempuan yang dipaksa menjadi budak seks untuk Jepang di perang dunia kedua. Pada demonstrasi itu, para aktivis, pelajar, dan seniman perempuan dari berbagai negara menyuarakan aspirasinya. Udara Berlin yang dingin seolah dibakar oleh semangat mereka. Mereka tidak hanya memperjuangkan keadilan gender saja, tetapi secara khusus, mereka protes jika patung itu akan ditiadakan dari tempat itu. Patung itu telah menjadi simbol kejahatan yang pernah terjadi dalam sejarah dunia. Peniadakan patung itu, berarti pembunuhan terhadap kemanusiaan.

Menilik makna sejarah dari patung itu, saya seperti mengalami deja vu. Sejarah itu seperti juga terjadi di negara saya, yang kebetulan juga menjadi inspirasi dalam karya Aryati. Dalam sejarah Indonesia saya mengenal istilah jugun ianfu: perempuan yang dipaksa menjadi budak seks oleh tentara Jepang ketika menjajah Indonesia. Ada banyak cerita menyedihkan mengenai perempuan-perempuan Indonesia yang menjadi korban perbudakan ini. Meskipun Indonesia tidak memiliki patung khusus seperti di Berlin, tapi cerita dari para korban dan ribuan buku yang tertulis mengenainya, membuat peristiwa ini tidak mudah terhapus dari sejarah kami. Dan karya Aryati merupakan salah satu usaha meneguhkan kembali sejarah itu. Sejarah menghukum kita, bahwa saya dan siapa pun diantara kita, tidak dapat kembali ke masa lalu. Beberapa hal di masa lalu mungkin bisa diperbaiki, tapi banyak hal tidak. Dan kini, dengan peniadaan patung itu, apakah mereka akan lepas dari tanggung jawab atas kesalahan mereka? Apakah mereka bisa menghapus kesalahan di masa lalu? Apakah luka lahir batin para korban bisa disembuhkan? Apakah mereka menjamin peristiwa itu tidak akan terjadi lagi kini dan nanti?

Selama lebih dari 1,5 jam, perempuan-perempuan itu berdiri mengelilingi patung itu dan berorasi. Dingin udara tak menggetarkan mereka. Gelapnya langit tak menciutkan mereka. Bersama mereka saling menguatkan, seperti jargon yang tertulis dalam berbagai bahasa diplakat mereka: Kami mengingat, Kami melawan, Kami bertahan.

Tiba-tiba saya menemukan diri saya di dunia yang penuh dengan kejahatan. Terpanggil untuk bertempur. Diseret untuk melawan. Saya seperti dipaksa menggali lubang, tapi kemudian menceburkan diri saya sendiri ke dalamnya.

Sebagai perempuan, apakah saya terlahir di bumi hanya untuk membereskan ketidakadilan dan memberangus patriarki?
Apakah perempuan tidak mempunyai tujuan lain dalam hidupnya selain merobohkan tembok-tembok yang mengukung mimpi-mimpinya?
Tidak bisakah perempuan hidup tenang tanpa menanggung beban sebagai perempuan?
Saya, sebagai Indonesia, apakah saya harus membalaskan dendam nenek moyang saya yang telah dipaksa menjadi budak dan tersiksa lahir-batin sejak abad ke 18?
Apakah saya harus memikul duka nenek moyang saya dalam darah dan jiwa saya seumur hidup?
Apakah saya tidak berhak untuk mencari keunggulan nenek moyang saya dibanding para penjajah itu? 
Apakah saya tidak berhak menyudutkan penjajah dan keturunannya dengan rasa bersalah seumur hidup? 
Apakah saya tidak berhak menuntut ganti rugi atas apa yang mereka lakukan terhadap nenek moyang saya?

Angin tiba-tiba menggulung teriakan saya menjadi sebuah nyanyian yang tidak pernah didengar.

Sementara demonstrasi belum usai, saya mendengar Aryati berbisik sunyi. Tubuh Aryati bergontai di antara mereka. Hampa.

1 Pakaian tradisional Korea.

Published by

Avatar

Umi Maisaroh

Umi Maisaroh telah menyelesaikan jenjang studi master ilmu teater di Freie Universität Berlin. Pernah menjadi penari, pernah bermain teater boneka. Tapi kini lebih suka mengumpulkan cerita dan menggunakan berbagai medium untuk bercerita. Karya-karyanya merupakan hasil ketakjubannya akan kemurnian sains, renungan spiritual dan kebebasan seni.